Minggu, 10 Februari 2013

JURUS-JURUS CINTA




Karena CINTA, SEMUA JALAN KUTEMPUH.

Nggak ada hujan, nggak ada badai, gara-gara Ara, aku yang dikenal cool di sekolah (Huuuu...), nekad menempuh cara apa aja untuk PDKT sama dia.

Bruummm.... Ucup mengantarku ke rumah Ara. Rumah Ara nggak begitu jauh dengan rumah Yusuf. So, nggak perlu waktu yang lama untuk sampai di rumah Ara.

Teras rumah Ara
“Semoga sukses Rom!” bilang Ucup.
“Pasti Cup.”

Tok... Tok.. Tok...
'Eh.. kak Romi, mari msuk kak' Ara mengintip dari jendela kemudian membuka pintu rumahnya.
 'Tumben kak ke rumah. Mau minum apa kak?'
“Nggak usah” (Padahal aku ngarep dikasih minum orange float, favoritku)
“Ah, kakak, nggak usah malu-malu”
'Minum apa aja deh’

Ara adek kelasku. Berperawakan imut plus suaranya itu loh yang buat dia seksi, cempreng-cempreng gimana gitu. Eva yang kali pertama ngenalin kami berdua.

Berjam-jam di rumah Ara, isi perbincangan kami ngalor-ngidul. Nggak ada romantis-romantisnya. Ada satu pertanyaan yang nggak bakal aku lupa:
Cupang Punya Ara
'Suka melihara ikan cupang juga ya?' Tanyaku sambil liat ikan cupang yang lagi manyun dipajang di lemari hias.
'Ya kak, Ara suka ikan cupang. Lucu kayak mantan Ara dulu'.
‘Waduh, selera Ara itu cowok yang mirip ikan cupang.’ Pikirku sambil ngubah wajahku supaya mirip ikan cupang, ini jurus pertama untuk mendapatkan hati Ara: BERUSAHA MENJADI APA YANG CEWEK SUKAI.

Hening.
3 jam berlalu
Aku harus pamit. Tapi, nggak mugkin aku pulang jalan kaki. Ucup yang tadinya janji jemput aku, belum juga nongol. Aku mulai resah.
“Ara, aku pulang ya”
 'Naik apa kak?'
‘Mmm... sepeda motorku di simpang depan tu dek, lagi diservis’ jawabku bohong karena aku kira cewek sekarang lebih tertarik dengan sepeda motor yang kinclong dari pada wajah yang kinclong.
'Emm.. bonyok Ara mana?'  
'Di belakang kak'.

Aku pamitan sama bonyok Ara. Gileee... baek bener kan aku. Ini nih jurus andalanku yang kedua: MENDAPATKAN PERHATIAN DARI CALON MERTUA.

Sudah kebiasaanku, kalau naksir sama cewek harus kenal dulu ma bonyoknya. Tujuannya, ya tiada lain tiada bukan biar aku dapat SIM, Surat Izin Mencintai anaknya. Nah, aku pikir aku sudah berhasil menarik perhatian bonyok plus adik Ara. Buktinya, adik Ara nyuruh aku datang lagi ke rumah Ara.


***
Seminggu berlalu, tiba-tiba Ara nelpon aku.
'Kak, ke rumah dong'.
 Wah, kesempatan bagus nih
'Napa Ra?'
'Adek Ara rindu ni ma kak.'
'Ok deh'.
Dalam hatiku berkata, 'Adik atau Ara yang rindu’.

Aku bergegas, pilah-pilih baju yang bagus biar kelihatan manis dilihat Ara.
Lagi dan lagi, minta anterin Ucup. Maklum aku nggak ada motor. Ucup memang baik, selain jadi sahabat, dia jadi tukang ojekku.

Dan PDKT-ku berlanjut. Karena berketepatan bulan Ramadan, aku datang ke rumah Ara agak sorean (Biar sekalian buka bareng. Ngarep!). Hore, Impianku terwujud.

Setelah lama ketawa-ketiwi. Hening. Ketawa-ketiwi.  Hening lagi. Akhirnya, si beduk dipukul juga. Yes,  buka puasa bareng keluarga Ara. Obrolan pun berlanjut dengan Ibu Ara. Ibunya ternyata humoris. Connect deh, malah lebih comfort dengan ibunya. Tapi tetap hatiku buat Ara.  (Yaiyalah, masa’ aku kepincut sama ibunya Ara).
“Rom, suka masakan ibu nggak?”
“Suka banget bu!”
“Rom Hobinya apa?”
Wah, ibunya mulai introgasi aku.
“Mencintai anak ibu.”
“Ha???”

Nah, ini jurus yang ketiga: JUJUR. Ingat! Aku yakin cewek suka cowok yang jujur. Apalagi orang tua si cewek, pasti suka dong punya mantu yang jujur.

Well, petualanganku merebut hati Ara tidak sampai di sini. Masih banyak jurus-jurus andalanku.
Akhirnya si Ucup nggak telat jemput aku. Bye... Bye... Ara.
(Simalungun, 2007)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar